12. IRIGASI DAN FERTIGASI

MINGGU ke 10 IRIGASI DAN FERTIGASI TANAMAN HORTIKULTURA print

Irigasi dan Fertigasi

IRIGASI DAN FERTIGASI

Kunci dari budidaya pohon buah-buahan secara modern adalah adanya
pengairan. Durian memerlukan air untuk pertumbuhannya. Jadi pada saat
memilih lokasi untuk membangun kebun durian harus diperhatikan ada tidaknya
sumber air untuk menghadapi musim kemarau. Apabila tidak ditemukan sumber
air, harus dihitung apakah air pada musim hujan cukup banyak untuk ditampung.
Perkebunan buah-buahan di Thailand, Malaysia, Brazil, Meksiko dan negara
sedang berkembang lainnya mempunyai embung yang digunakan untuk
menampung air pada musim hujan yang digunakan untuk pengairan pada musim
kemarau.
Pada perkebunan yang modern ketersedian air sepanjang waktu sangat
penting. Tanaman buah-buahan sangat peka terhadap kekurangan air. Jika usaha
dimaksudkan untuk tujuan ekspor maka kualitas buah segar haruslah prima.
Untuk menghasilkan kualitas buah demikian diperlukan air yang cukup, yaitu
sekurang-kurangnya menggantikan evapotranspirasi tanaman.
Di Indonesia, irigasi pada kebun buah-buahan masih jarang dilakukan.
Ada beberapa kelemahan pada kebun yang tidak diirigasi atau sistem irigasinya
tidak dirancang dengan baik. Pada kebun buah demikian, perakaran pohon yang
efektif menyerap hara (feeder root) akan berada jauh di dalam tanah, sehingga
efisiensi pemupukan rendah dan pengelolaan tanaman sulit dilakukan. Tidak
adanya irigasi juga akan menyebabkan pertumbuhan tunas vegetatif tidak
serempak, sehingga menyulitkan pengelolaan tanaman (waktu pemupukan dan
pemangkasan), serta adanya serangan hama dan penyakit yang tidak terputus
karena hampir selalu ada tunas muda. Pembungaan juga tidak serempak dan
bunga sedikit. Banyak bunga yang tidak berkembang sempurna dan gugur,
sehingga buah yang terbentuk sedikit. Buah yang terbentuk berukuran kecil, tidak
seragam, pecah, terbakar, kualitasnya rendah dan produktivitas tanaman juga
rendah.
Karena itu kebun buah-bauhan harus mempunyai sumber air irigasi yang
cukup. Kualitas air irigasi perlu dijaga agar salinitasnya rendah, karena air
dengan salinitas tinggi menyebabkan ujung daun kering dan menurunkan
produksi. Apabila perlu kualitas air irigasi dicek (kimia dan mikroba), terutama
jika menggunakan air limbah. Sangat direkomendasikan agar tanaman tidak
pernah kekurangan atau kelebihan air. Irigasi perlu diatur berdasarkan perkiraan
hujan, evapotranspirasi dan siklus tumbuh tanaman. Pemberian air yang tidak
tepat sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas buah.
Di Indonesia, sistem irigasi yang banyak digunakan adalah sistem irigasi
manual, sistem irigasi semi manual, sistem irigasi permukaan. Sistem irigasi
manual dilakukan di beberapa kebun durian dengan menyiramkan air dari ember
yang dipikul. Cara ini sangat tidak efisien, lebih-lebih pada perkebunan yang
luas. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengairi tanaman sangatlah banyak
dan pemakaian air juga tidak efisien. Sistem irigasi semi manual menggunakan
pipa lateral atau selang plastik yang dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan letak
katup-katup yang telah dipasang sepanjang pipa manifold. Sistem irigasi
permukaan dengan dengan sistem genangan atau aliran difungsikan juga sebagai
sistem draenase pada musim hujan.
Pada perkebunan modern selain sistem irigasi permukaan, perlu
dipertimbangkan penggunaan sistem irigasi irigasi tetes (drip) atau irigasi
springkler. Sistem irigasi drip dan springkler lebih menghemat air daripada irigasi
permukaan. Pada sistem irigasi drip, air irigasi diberikan secara perlahan-lahan
dengan tetesan terputus-putus, atau terus menerus berupa aliran tipis atau
semprotan kecil. Salah satu modifikasi sistem irigasi tetes adalah sistem irigasi
pipa berlubang, yang tidak menggunakan komponen emiter/penetes. Emiter
digantikan fungsinya oleh lubang-lubang yang dibuat sepanjang pipa lateral.
Irigasi tetes lebih sesuai untuk tanaman buah semusim, sayuran atau bibit buahbuahan.
Tanaman pohon dewasa biasanya diairi dengan sistem irigasi springkler.
Sistem irigasi yang dibangun harus mampu membagi sejumlah air saat
dibutuhkan. Pada pohon durian dengan diameter tajuk 6 m, puncak kebutuhan air
mencapai 1 500 – 2 000 liter/pohon/minggu. Sistem irigasi yang dibangun harus
mampu menyuplai air sebanyak itu jika dibutuhkan.
Penentuan penjadwalan irigasi dapat dilakukan dengan cara: mengukur
status air tanaman, metode meteorologi (termasuk dengan Panci Evaporasi),
neraca air, dan monitoring air tanah. Monitoring kelembaban tanah dapat
memaksimumkan efisiensi penggunaan air dan menjaga lingkungan dengan
mengurangi pencucian hara dan limpasan air yang disebabkan oleh pengairan
berlebih. Pada durian, sebagian besar akar penyerap berada pada kedalaman 30
cm dari permukaan tanah, karena itu sensor alat pengukur kelembaban tanah harus
diletakkan pada kedalaman tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s